Abstrak
Lahan Baku Sawah (LBS) merupakan basis data spasial strategis yang menjadi rujukan perencanaan tata ruang dan penyaluran subsidi pertanian. Namun, data LBS pada praktiknya kerap tersimpan sebagai berkas berukuran sangat besar yang tidak dapat dikonsumsi peramban, sekaligus memiliki tingkat kelengkapan atribut agronomis yang sangat rendah. Penelitian ini berfokus pada pengembangan aplikasi WebGIS yang ditujukan untuk menampilkan dan mendata detail Lahan Baku Sawah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sistem ini dirancang secara khusus agar petani dan penyuluh pertanian dapat mengisi detail kronologis lahan secara interaktif.
Data primer GeoJSON LBS D.I. Yogyakarta (300,62 MB) yang memuat 76.222 bidang lahan diproses melalui pipeline ekstraksi–transformasi–pemuatan (ETL). Pipeline memecah data menurut lima kabupaten/kota, memisahkan geometri dari atribut, dan mereproyeksikan koordinat ke EPSG:32749 (UTM Zona 49S). Aplikasi dibangun menggunakan Vite 8 dan MapLibre GL JS 5.
Hasil penelitian menunjukkan total luas LBS D.I. Yogyakarta pada UTM 49S adalah 66.823,94 Ha. Temuan paling kritis dari data LBS adalah 40 dari 50 kolom atribut (80%) berisi nilai kosong mutlak pada seluruh bidang. Hal ini membuktikan bahwa data LBS saat ini hanya berupa peta batas bidang, tanpa informasi agronomis aktual.
Sebagai solusi, WebGIS ini menghadirkan model data "bidang–peristiwa" (kronologis) dan menyediakan instrumen pemutakhiran atribut langsung di sisi pengguna. Strategi ini memungkinkan petani atau penyuluh memperbarui kondisi lahan, komoditas, atau status alih fungsi langsung dari lapangan melalui peramban.
Kata Kunci: Lahan Baku Sawah; WebGIS partisipatif; pendataan kronologis; MapLibre GL JS; Daerah Istimewa Yogyakarta
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Ketahanan pangan nasional bertumpu pada ketersediaan lahan sawah yang terjaga luas dan produktivitasnya. Instrumen teknis yang menjadi rujukan utama dalam pelestarian ini adalah data Lahan Baku Sawah (LBS).
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tekanan alih fungsi lahan sawah yang intens. Namun, pemantauan dan pendataan alih fungsi ini terhambat oleh dua kendala utama:
-
1.Aksesibilitas Data: Berkas sumber LBS DIY memiliki ukuran raksasa (300,62 MB untuk 76.222 bidang) yang membuat peramban membeku jika dimuat sekaligus. Data ini sulit diakses oleh petugas lapangan.
-
2.Kekosongan Atribut & Ketiadaan Riwayat: Struktur atribut LBS sangat kompleks, namun tingkat keterisiannya sangat rendah. Data LBS hanya menyajikan potret statis dari satu waktu. Ketika sebuah sawah berubah menjadi lahan kering atau beralih fungsi, perubahan kronologis ini tidak terekam dalam sistem.
Di sisi lain, petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah pihak yang paling mengetahui kondisi detail dan kronologis setiap bidang lahan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah platform WebGIS yang tidak hanya mampu menampilkan data LBS secara ringan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen pendataan di mana petani dan PPL dapat memasukkan pembaruan data secara langsung.
1.2. Permasalahan
- Bagaimana merancang arsitektur WebGIS yang mampu menampilkan 76.222 bidang LBS secara interaktif tanpa kendala performa di peramban pengguna?
- Bagaimana merancang antarmuka dan instrumen pemutakhiran data yang memungkinkan petani dan penyuluh mengisi riwayat kronologis lahan (seperti status tanam, bera, atau alih fungsi) langsung dari peta?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah membangun aplikasi WebGIS yang berfungsi penuh untuk menampilkan sebaran LBS di Provinsi DIY sekaligus menjadi platform pendataan interaktif. Secara khusus, WebGIS ini bertujuan menyediakan formulir pemutakhiran atribut kronologis di sisi klien agar petani dan PPL dapat dengan mudah melengkapi kekosongan data LBS.
BAB II. METODE PENELITIAN
2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian mencakup wilayah administratif DIY yang memuat LBS, meliputi 5 kabupaten/kota yang seluruhnya berada di zona EPSG:32749 (UTM Zona 49S):
- Kabupaten Sleman: 17 Kecamatan / 34.328 Bidang
- Kabupaten Bantul: 17 Kecamatan / 9.278 Bidang
- Kabupaten Kulon Progo: 12 Kecamatan / 4.602 Bidang
- Kabupaten Gunungkidul: 18 Kecamatan / 27.970 Bidang
- Kota Yogyakarta: 4 Kecamatan / 44 Bidang
2.2. Instrumen Pendataan Kronologis (Model Bidang-Peristiwa)
Untuk memfasilitasi pendataan oleh petani/PPL, WebGIS ini memperkenalkan variabel entitas peristiwa (kronologis bidang). Model ini mencatat riwayat perubahan lahan tanpa merusak data batas geometri aslinya. Elemen data yang dikumpulkan meliputi:
2.3. Diagram Alir Sistem
Alur kerja pengembangan berpusat pada optimasi data dan antarmuka pendataan partisipatif.
Code snippet
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Optimasi Penyajian Data
Strategi pemisahan geometri dan atribut melalui pipeline berhasil menurunkan volume data unduhan awal hingga rasio 1:26.487. Halaman utama kini hanya memuat 11.901 byte berkas statistik, menjadikan WebGIS sangat ringan diakses melalui perangkat seluler (perangkat utama PPL di lapangan).
3.2. Penemuan Kekosongan Atribut Data LBS
Pemindaian pada 76.222 bidang menghasilkan temuan bahwa 80% dari total kolom atribut (40 dari 50 kolom) sepenuhnya kosong. Tidak ada satu pun informasi agronomis, kepemilikan, atau riwayat tanam yang terisi. Hal ini mengukuhkan urgensi ketersediaan instrumen pengisian data mandiri pada WebGIS.
3.3. Sistem Pendataan oleh Petani dan Penyuluh
Fitur ini adalah inovasi inti dari aplikasi WebGIS yang dibangun. Alur kerjanya dirancang khusus mengikuti logika petugas lapangan:
-
1.Identifikasi Visual: Saat peta diakses, petani/PPL dapat mencari bidang sawah mereka.
-
2.Lencana Kekosongan (Badge): Saat sebuah bidang diklik, sistem akan menampilkan detail atribut. Setiap kolom data yang masih kosong ditandai secara visual dengan lencana "Belum diisi" berwarna merah, menuntun pengguna pada data apa yang harus dilengkapi.
-
3.Pengisian Kronologis Tunggal & Massal: Disediakan formulir khusus untuk mencatat "Peristiwa" baru pada lahan tersebut. PPL dapat menyeleksi banyak bidang sekaligus (lasso tool) untuk mengisi data komoditas atau status irigasi dalam satu hamparan yang seragam, mempercepat proses entri puluhan bidang lahan.
-
4.Dukungan Survei Lapangan: Aplikasi menyediakan fitur cetak layout kartografis (GeoPDF) berkoordinat. PPL dapat mengunduh peta, membawanya luring (offline) ke lapangan, dan memperbarui datanya kembali di WebGIS saat koneksi tersedia.
BAB IV. KESIMPULAN
Aplikasi WebGIS ini berhasil memenuhi fungsinya sebagai medium penyaji visual sekaligus platform pendataan interaktif untuk Lahan Baku Sawah di Provinsi D.I. Yogyakarta.
Dengan memecah bottleneck data berukuran raksasa menjadi layer yang sangat ringan, aplikasi ini sukses dibawa ke layar peramban ponsel para petugas di lapangan. Lebih dari sekadar peta, WebGIS ini menyoroti kekosongan atribut historis pada data LBS resmi dan memberikan solusi langsung berupa "Instrumen Pemutakhiran Kronologis". Melalui antarmuka yang ramah pengguna, fitur pengisian tunggal maupun massal (lasso selection) memungkinkan petani dan penyuluh pertanian untuk memperbarui status lahan, merekam alih fungsi, dan mencatat riwayat tanam secara langsung, mengubah data LBS dari peta statis menjadi basis data pertanian yang dinamis.
Daftar Pustaka
-
1.Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 149.
-
2.Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. (2019). Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional.
-
3.Goodchild, M. F. (2007). Citizens as Sensors: The World of Volunteered Geography. GeoJournal, 69(4), 211–221.
-
4.Haklay, M. (2013). Citizen Science and Volunteered Geographic Information: Overview and Typology of Participation. Dalam Crowdsourcing Geographic Knowledge. Springer.
-
5.MapLibre Organization. (2025). MapLibre GL JS Documentation.
-
6.MAPID. (2025). GEO MAPID Platform Documentation. PT MAPID.